Menekan Kurva COVID-19 di Indonesia

Menekan Kurva COVID-19 di Indonesia

COVID-19 memiliki dampak bagi seluruh lapisan masyarakat. 

14 hari pertama #dirumahaja rasanya dijalani dengan penuh semangat. Mencoba hal-hal baru seperti rapat melalui aplikasi, memasak sendiri untuk ditampilkan di sosmed, belajar IPA tingkat 5 SD... yang sampai sekarang tetap tidak dimengerti. 

2 bulan setelah kasus COVID-19 pertama di Indonesia... melihat guru di layar ponsel, merayakan ulang tahun melalui video call, berbagi hasil masakan di sosmed menjadi hal normal yang baru. 

Seperti negara-negara lain, para  lansia, tenaga medis, dan ekonomi Indonesia bergantung dari menekan kurva penyebaran.

Di Indonesia, angka penyebaran telah melewati 10.000 pasien terkonfirmasi. Apakah angka 11.000 mendekati puncak dari kurva penyebaran di Indonesia atau baru permulaan? 
Beberapa penelitian dan pemerintah melihat puncak dari penyebaran COVID-19 di Indonesia akan terjadi di akhir bulan Mei 2020 dengan angka di puluhan ribu kasus. Tetapi virus memiliki timeline sendiri. Kerja keras dan kerja cerdas, serta keterlibatan seluruh sektor dapat memperpendek timeline tersebut. 

Belajar dari pengalaman negara lain, Indonesia mengambil beberapa langkah untuk menekan kurva penyebaran COVID-19 di Indonesia. 

<b>PSBB: Pembatasan Sosial Berskala Besar</b>

Penyebaran COVID-19 diawali dari luar negeri. Penutupan imigrasi bagi pengunjung asing dilakukan pada Maret 2020. 

Penyebaran lokal di Indonesia tidak dapat dihindari. Indonesia fokus membatasi penyebaran dengan membatasi pergerakan masyarakat, terutama di/dari zona merah. Masyarakat diminta untuk melakukan kegiatan belajar, bekerja, beribadah dan segala kegiatannya di rumah.

Berbeda dari karantina, PSBB membatasi pergerakan masyarakat, kecuali untuk 11 sektor dengan peran krusial. Pelanggaran dapat dihukum 1 tahun penjara atau denda Rp. 100 juta. 

Institusi pendidikan ditutup. 
Tempat ibadah ditutup. 
Sebagian besar kantor pemerintahan ditutup.
24 April 2020, mudik dari zona merah dilarang. 

Gotong royong dilakukan dengan cara berdiam diri di rumah. 
Berdiam diri di rumah bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk kesehatan bersama. 

Terbatasnya laboratorium tes Polymerase Chain Reaction (PCR) COVID-19 terus menjadi pusat perhatian pemerintah. 

Hingga 4 Mei 2020, dari 60.000 spesimen PCR, 80% lebih menunjukkan hasil negatif. Presiden Joko Widodo terus mendorong untuk memperbanyak tes PCR, menjadi 10.000 spesimen per hari. 

"Saya ingin agar setiap hari paling tidak kita bisa mengetes lebih dari 10 ribu," kata Jokowi dalam rapat terbatas (ratas) Laporan Gugus Tugas COVID-19 yang disiarkan melalui saluran YouTube Sekretariat Presiden, 13 April 2020.

Untuk mencapai 10.000 spesimen per hari, Indonesia terus menambahkan laboratorium  dan  zat kimia reagen. Di awal laboratorium terdapat 

Banyak perusahaan berbasis aplikasi dan asuransi menawarkan tes dengan caranya masing-masing, termasuk rapid test. Hasil akurasinya tidak sempurna dan tetap harus diverifikasi dengan tes PCR. WE+ bekerjasama dengan PRIXA luncurkan fitur WE+ Clinic yang dapat melihat gejala awal COVID-19 dari rumah saja. 

<b>Cuci Tangan, Jaga Jarak, Gunakan Masker</b>

Masyarakat Indonesia juga melakukan perannya dalam menekan kurva penyebaran COVID-19. 

Menjauhi COVID-19 dengan cara menjaga jarak. Menjaga jarak menjadi cara utama dalam menghindari menyebaran covid-19. 

"Saat ini, berkat teknologi yang telah maju, kita dapat tetap terhubung dengan berbagai cara tanpa benar-benar berada dalam ruangan yang sama dengan orang-orang lain secara fisik," kata ahli epidemiologi WHO Maria Van Kerkhove pada 20 Maret lalu.

Virus corona diketahui penyebaran utamanya melalui tetesan pernapasan, terutama saat orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Oleh karena itu, menjaga jarak fisik yang aman dianjurkan untuk mengurangi penularan. WHO merekomendasikan menjaga jarak lebih dari 1 meter dari orang lain. Sementara, beberapa pakar kesehatan menyarankan untuk menjaga jarak setidaknya dua meter dari orang lain.

20 detik, cuci tangan menggunakan sabun dengan air mengalir. 20 detik adalah waktu yang diperlukan sabun untuk menyerang perlindungan luar dari virus corona. 

Pemerintah daerah, paguyuban perumahan, perkantoran bukan hanya menyiapkan hand sanitizer, tetapi tempat untuk mencuci tangan yang lebih mudah dijangkau. 

Jangan lupa, seluruh bagian tangan digosok dengan sabun, dari depan, belakang, selah-selah jari, hingga ujung kuku. 

Tidak semua memiliki kesempatan untuk menjaga jarak, masyarakat dapat menggunakan masker saat berada di keramaian. 

PERINGATAN: MASKER TIDAK MENJAMIN BEBAS DARI COVID-19 100%

“Saya melihatnya sebagai pengawalan-triad dari virus yang ingin menembus masuk. Bila Anda tidak menggunakan masker, apakah lebih baik dengan menjaga jarak dan mencuci tangan? Tentu. Tetapi melakukan ketiga sangat penting,” kata Shan Soe-Lin dari Yale University kepada Vox Media. 

Diperkirakan ada sekitar 25% pasien positif COVID-19 yang tidak menunjukkan gejala sama sekali. Walaupun kita sehat, belum tentu kita tidak membawa virus SARS-CoV-2. Menggunakan masker bukan menjadi kuat melawan COVID-19, tetapi dapat mengurangi penyebarannya. 

Saat ini bukan lagi berandai-andai dan saling menyalahkan. Pandemi telah tiba dan saatnya kita fokus kepada sesama manusia. 

Penulis: Raka 10 Nov 909 28