Jamur pada Struktur Rumah: Jenis, Bahaya bagi Bangunan dan Penghuni, serta Cara Mencegahnya

Jamur pada Struktur Rumah: Jenis, Bahaya bagi Bangunan dan Penghuni, serta Cara Mencegahnya

Halo Sobat WE+, Jamur pada rumah bukan hanya masalah tampilan. Kehadiran jamur biasanya menjadi tanda bahwa ada masalah kelembapan, kebocoran, rembesan, atau sirkulasi udara yang kurang baik. Pada banyak kasus, jamur tumbuh di dinding, plafon, kayu, area kamar mandi, sekitar jendela, belakang lemari, dan bagian rumah yang jarang terkena sinar matahari. Sumber kesehatan dan lingkungan juga menekankan bahwa kunci utama pengendalian jamur adalah mengendalikan kelembapan, bukan sekadar membersihkan permukaannya.

 

Mengapa Jamur Bisa Tumbuh di Struktur Rumah?

Jamur tumbuh ketika spora jamur (yang memang ada hampir di mana-mana) menemukan kondisi yang mendukung, terutama kelembapan. Kondisi yang paling sering memicu pertumbuhan jamur di rumah adalah kebocoran atap, pipa bocor, rembesan dinding, banjir, kondensasi pada permukaan dingin, ventilasi yang buruk, dan area yang lama tidak kering setelah terkena air. 

Jenis Jamur yang Sering Ditemukan pada Struktur Rumah

Beberapa jenis jamur yang umum ditemukan di rumah antara lain Stachybotrys chartarum (sering dikenal sebagai black mold), Aspergillus, Penicillium, Cladosporium, Alternaria, dan Chaetomium. Selain itu, pada elemen kayu juga dapat ditemukan kelompok jamur pelapuk kayu (wood-decay fungi), termasuk jamur pelapuk putih dan pelapuk cokelat, yang merusak kekuatan kayu secara bertahap. World Health Organization (WHO) juga menjelaskan bahwa pencemaran mikroba di dalam ruangan melibatkan banyak jenis jamur dan mikroorganisme lain yang tumbuh ketika kelembapan tersedia.

Penting dipahami bahwa masyarakat sering fokus pada “black mold”, padahal warna jamur tidak selalu menentukan tingkat bahayanya. Yang lebih penting adalah adanya kelembapan terus-menerus, luas area yang terkontaminasi, serta lamanya paparan terhadap penghuni rumah. Prinsip utamanya tetap sama: sumber air harus ditemukan dan dihentikan.

 

Bahaya Jamur bagi Struktur Rumah

Jamur dapat merusak material bangunan secara perlahan. Pada dinding dan plafon, jamur dapat menyebabkan noda, perubahan warna, pengelupasan cat, bau apek, dan kerusakan lapisan finishing. Pada material berpori seperti gypsum, plafon, wallpaper, karpet, dan sebagian papan, jamur bisa masuk ke pori-pori sehingga sulit dibersihkan total dan kadang material perlu diganti. EPA juga menyebut material berpori yang sudah berjamur sering kali tidak bisa dibersihkan sempurna.

Pada struktur kayu, bahaya yang lebih serius adalah pelapukan. Jamur pelapuk kayu dapat menurunkan kekuatan kayu, membuatnya rapuh, retak, atau mudah hancur. Jika dibiarkan lama, kerusakan ini dapat memengaruhi kusen, rangka, lantai kayu, atau elemen penyangga lain sehingga berdampak pada keamanan dan biaya perbaikan yang jauh lebih besar.

Selain kerusakan material, jamur juga sering menjadi indikator adanya masalah bangunan yang lebih luas, seperti kebocoran tersembunyi, waterproofing yang gagal, atau ventilasi ruangan yang tidak memadai. Jadi, jamur bukan hanya “kotoran di dinding”, tetapi alarm bahwa rumah membutuhkan perbaikan pada sistem kelembapannya.

 

Bahaya Jamur bagi Penghuni Rumah

Paparan jamur dan kondisi rumah yang lembap dapat berdampak pada kesehatan, terutama saluran pernapasan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebutkan jamur dapat menimbulkan berbagai efek kesehatan, dan WHO menegaskan bahwa kelembapan persisten serta pertumbuhan mikroba di bangunan perlu dihindari karena dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.

Keluhan yang sering muncul pada penghuni rumah antara lain bersin, hidung tersumbat, pilek, batuk, tenggorokan terasa gatal, mata perih atau berair, sakit kepala, dan iritasi kulit. Pada orang yang sensitif, memiliki alergi, asma, anak-anak, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh lebih lemah, gejalanya bisa lebih berat atau lebih sering kambuh. Lingkungan rumah yang lembap dan berjamur juga berkaitan dengan peningkatan masalah pernapasan dan kekambuhan asma.

Bau apek yang khas dari jamur juga dapat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup penghuni. Bahkan saat jamur belum tampak jelas, bau lembap atau apek sering menjadi tanda awal bahwa ada pertumbuhan mikroba di balik dinding, plafon, atau area tersembunyi.

Asuransi mikro mulai dari 5000 Rupiah!

 

Tanda-tanda Rumah Mulai Berjamur

Beberapa tanda yang sering muncul adalah adanya noda hitam, hijau, cokelat, atau keabu-abuan pada dinding dan plafon, cat menggelembung atau mengelupas, bau apek, area dinding terasa lembap, bekas rembesan air, kondensasi berulang pada jendela atau sudut ruangan, serta bagian kayu yang mulai lunak atau rapuh. WHO juga mencatat indikator seperti kondensasi, jamur yang terlihat, bau jamur, dan riwayat kebocoran/kerusakan akibat air sebagai petunjuk penting adanya masalah kelembapan dan pertumbuhan mikroba.

 

Cara Mencegah Jamur pada Struktur Rumah

Pencegahan jamur yang paling efektif adalah mengendalikan kelembapan. Ini adalah prinsip paling penting yang perlu ditekankan.

Langkah pertama, adalah segera memperbaiki sumber air, seperti kebocoran atap, pipa, sambungan kamar mandi, rembesan dinding, atau retakan yang membuat air masuk. Jangan menunda perbaikan, karena jamur bisa tumbuh cepat ketika material tetap lembap. Pentingnya mengeringkan area atau material yang basah secepat mungkin (umumnya dalam 24–48 jam) untuk mencegah pertumbuhan jamur.

Langkah kedua. adalah menjaga kelembapan dalam rumah tetap rendah. kelembapan dalam rumah dijaga tidak lebih dari 50% sepanjang hari jika memungkinkan, dengan bantuan ventilasi yang baik, AC, atau dehumidifier.

Langkah ketiga, adalah memperbaiki sirkulasi udara. Ruang seperti kamar mandi, dapur, ruang cuci, dan area jemur sangat mudah menjadi lembap. Gunakan exhaust fan yang membuang udara ke luar rumah, buka ventilasi saat memungkinkan, dan hindari ruangan tertutup lembap terlalu lama. CDC juga merekomendasikan aliran udara yang baik dan ventilasi pada area penghasil uap/kelembapan.

Langkah keempat, adalah mengurangi kebiasaan yang menahan kelembapan. Misalnya, jangan menumpuk handuk atau pakaian basah terlalu lama di ruang tertutup, segera keringkan lantai dan dinding kamar mandi setelah digunakan, dan rutin membersihkan area yang sering basah. Material yang mudah menyimpan air juga perlu diperhatikan, terutama di area rawan lembap.

Langkah kelima, adalah pemeriksaan rutin rumah. Cek plafon, sudut dinding, belakang furnitur, bawah wastafel, kusen jendela, dan area sekitar AC secara berkala. Dengan menemukan kebocoran atau tanda awal jamur lebih cepat, kerusakan besar bisa dicegah.

 

Jika Jamur Sudah Muncul, Apa yang Perlu Dilakukan?

Jika jamur sudah terlihat, pembersihan tetap perlu dilakukan, tetapi jangan hanya mengecat ulang permukaan tanpa memperbaiki sumber airnya. Menutup permukaan berjamur atau rusak akibat air tanpa remediasi yang tepat dapat menimbulkan masalah lanjutan.

Permukaan yang keras dapat dibersihkan dengan deterjen dan air lalu dikeringkan sempurna, sementara material berpori yang sudah terkontaminasi berat (misalnya plafon akustik, gypsum tertentu, karpet) sering kali perlu diganti karena jamur bisa masuk ke dalam pori material.

Jika area jamur luas, berulang, berasal dari kerusakan air besar/banjir, atau penghuni rumah memiliki masalah pernapasan/alergi, lebih aman mempertimbangkan bantuan profesional untuk pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

Penutup

Jamur pada struktur rumah adalah masalah yang berkaitan erat dengan kelembapan, kebocoran, dan ventilasi. Dampaknya tidak hanya merusak dinding, plafon, kayu, dan material bangunan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan penghuni, terutama sistem pernapasan. Kabar baiknya, pencegahan jamur sangat mungkin dilakukan jika rumah dijaga tetap kering, kebocoran segera diperbaiki, sirkulasi udara baik, dan area basah cepat dikeringkan.

Penulis: Falah 24 Feb 2026 7