Baru Mulai Lari? Ini 9 Tips untuk Pemula, dari Pace hingga Zona 2

Baru Mulai Lari? Ini 9 Tips untuk Pemula, dari Pace hingga Zona 2

Halo Sobat WE+, belakangan ini olahraga lari tengah menjadi trend, selain menjadi gaya hidup yang sehat, banyak orang memulai lari karena ingin tahu bagaimana kapasitas fisik tubuhnya. Lari menjadi salah satu olahraga yang paling mudah untuk mulai dilakukan. Nggak perlu alat yang rumit atau tempat khusus, cukup sepatu yang nyaman dan kemauan untuk bergerak. Tapi buat kamu yang baru mulai lari, jangan langsung memaksakan diri mengejar jarak atau pace tertentu.

Supaya tubuh bisa beradaptasi dan kamu tetap nyaman menjalani rutinitas lari, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

1. Mulai Pelan, Nggak Perlu Langsung Jauh

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah terlalu semangat di awal. Baru mulai lari, tapi langsung menargetkan 5–10 kilometer atau mencoba berlari secepat mungkin.

Padahal, tubuh membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan aktivitas baru. Kamu bisa mulai dengan kombinasi jalan kaki dan lari ringan, misalnya lari selama 1–2 menit lalu berjalan selama 1 menit.

Seiring waktu, durasi lari bisa ditambah secara bertahap.

2. Jangan Terlalu Fokus pada Pace

Melihat orang lain bisa lari dengan pace cepat memang kadang bikin ingin ikut mengejar. Tapi untuk pemula, yang lebih penting adalah membangun kebiasaan dan daya tahan terlebih dahulu.

Cobalah berlari dengan kecepatan yang masih memungkinkan kamu berbicara tanpa terlalu terengah-engah. Pace akan berkembang dengan sendirinya ketika tubuh sudah semakin terbiasa.

Ingat, lari bukan soal siapa yang paling cepat, tapi soal bagaimana kamu bisa konsisten.

3. Coba Latihan di Zona 2

Untuk kamu yang baru mulai lari, latihan Zona 2 bisa menjadi salah satu cara yang baik untuk membangun daya tahan.

Zona 2 adalah latihan dengan intensitas ringan hingga sedang, ketika detak jantung tidak terlalu tinggi dan tubuh masih terasa cukup nyaman untuk bergerak dalam waktu yang lebih lama.

Secara umum, Zona 2 sering berada di sekitar 60–70% dari detak jantung maksimal, meskipun angka setiap orang bisa berbeda. Cara yang lebih mudah untuk mengenalinya adalah melalui talk test: kalau kamu masih bisa berbicara dalam beberapa kalimat saat berlari tanpa terengah-engah, kemungkinan intensitasmu masih berada di area yang cukup ringan.

Kalau saat mencoba Zona 2 kamu harus berlari sangat pelan atau bahkan bergantian dengan jalan kaki, itu nggak masalah.

Justru latihan ini membantu tubuh membangun aerobic base, meningkatkan daya tahan, dan membuat tubuh lebih efisien menggunakan energi.

Untuk pemula, nggak semua sesi harus terasa berat. Sebagian besar latihan justru bisa dilakukan dengan intensitas nyaman seperti ini.

4. Gunakan Sepatu yang Nyaman

Sepatu menjadi salah satu perlengkapan penting dalam olahraga lari. Kamu nggak harus langsung membeli sepatu paling mahal, tetapi pastikan sepatu yang digunakan nyaman, ukurannya sesuai, dan memberikan dukungan yang cukup ketika berlari.

Sepatu yang kurang nyaman bisa membuat kaki cepat sakit dan membuat pengalaman lari jadi kurang menyenangkan.

5. Jangan Lewatkan Pemanasan

Sebelum mulai berlari, luangkan sekitar 5–10 menit untuk mempersiapkan tubuh.

Kamu bisa melakukan jalan cepat atau gerakan dinamis seperti leg swings, high knees ringan, dan ankle rotation. Pemanasan membantu meningkatkan aliran darah ke otot sekaligus mempersiapkan tubuh untuk bergerak lebih aktif.

Asuransi mikro mulai dari 5000 Rupiah!

Setelah selesai berlari, turunkan intensitas secara perlahan dengan berjalan santai beberapa menit.

6. Beri Tubuh Waktu untuk Istirahat

Kalau baru mulai lari, kamu nggak harus melakukannya setiap hari.

Tubuh juga membutuhkan waktu untuk pulih. Kamu bisa memulai dengan jadwal 2–3 kali seminggu dan memberikan jeda di antara hari latihan.

Istirahat yang cukup justru membantu tubuh menjadi lebih kuat dan mengurangi risiko cedera akibat latihan berlebihan.

7. Perhatikan Sinyal dari Tubuh

Rasa lelah setelah olahraga merupakan hal yang wajar. Namun, jangan mengabaikan rasa sakit yang terasa tajam, terus-menerus, atau semakin parah ketika berlari.

Kalau tubuh terasa sangat lelah, nggak ada salahnya mengambil waktu istirahat. Memaksakan diri ketika tubuh belum siap justru bisa membuat kamu harus berhenti lari lebih lama karena cedera.

8. Pastikan Tubuh Tetap Terhidrasi

Jangan lupa memenuhi kebutuhan cairan sebelum dan setelah berlari, terutama ketika cuaca sedang panas.

Untuk sesi lari ringan dengan durasi pendek, air putih biasanya sudah cukup. Yang paling penting adalah jangan menunggu sampai merasa sangat haus untuk mulai minum.

9. Buat Target yang Realistis

Daripada langsung menargetkan pace tertentu, coba mulai dari target yang lebih sederhana.

Misalnya:

“Minggu ini aku mau lari dua kali.”

atau

“Aku mau bisa bergerak selama 30 menit tanpa berhenti.”

Target kecil terasa lebih mudah dicapai dan bisa membantu kamu membangun kebiasaan secara konsisten.

Nggak Perlu Jadi Pelari Hebat di Hari Pertama

Saat baru mulai lari, mungkin kamu akan cepat capek, napas terasa berat, atau jarak yang ditempuh belum sejauh orang lain.

Itu normal.

Setiap pelari juga pernah berada di titik awal. Nggak masalah kalau pace kamu masih pelan, harus jalan di tengah latihan, atau membutuhkan waktu lebih lama untuk meningkatkan jarak.

Mulai perlahan, jaga intensitas tetap nyaman, dengarkan tubuh, dan nikmati prosesnya. Karena dalam lari, konsistensi akan membawa kamu lebih jauh daripada sekadar semangat di hari pertama.

Sumber: CDG.gov & Harvard Health Publishing, Seluruh fakta mengenai latihan zona 2 dalam artikel ini merupakan parafrase dari sumber tersebut.

Penulis: Falah 21 Aug 2026 28

Penulis: Falah
01 Oct 2023
1535